Me & My WiFe!!

Me & My WiFe!!

Sunday, October 9, 2011

DARJAT SEORANG ISTERI...




1. Isteri Siddiqin
Isteri yang tidak akan meminta apa-apa dari suaminya sekalipun yang perlu (dharuri). Apa yang disediakan suaminya, dia terima dengan penuh malu dan bersyukur. Kalau ada, adalah. Kalau tidak ada, dia bersabar. Tapi meminta tidak. Apatah lagi yang tidak perlu, kalau diberi pun dia tolak bahkan adakalanya yang perlu pun dia tolak dengan baik, dia lebih suka menolong suaminya. Itulah golongan yang bersifat orang yang Siddiqin. Golongan ini payah hendak dicari terutama di akhir zaman ini, macam hendak mencari belerang merah atau gagak putih. Ini adalah perempuan luar biasa.

2. Isteri Muqarrobin
Isteri yang tidak meminta dari suaminya kecuali yang perlu sahaja. Yang tidak perlu dia tidak akan memintanya bahkan kalau suaminya memberi yang tidak perlu dia tolak dengan baik. Tapi kalau yang diperlukan pun tidak ada, dia tetap sabar. Namaun dia tidak akan mendesak suaminya. Dia tetap bersabar dengan keadaan itu. Itulah golongan Muqarrobin. Golongan ini juga susah hendak dicari di zaman kebendaan ini, di zaman orang memburu dunia, di zaman orang memandang dunia adalah segala-galanya.

3. Isteri Solehin
Isteri yang meminta kepada suaminya yang perlu dan juga sekali-sekala meminta juga yang tidak perlu seperti ingin sedikit kehidupan yang selesa sama ada dari segi makan minum, tempat tinggal, kenderaan. Namun kalau suaminya tidak memberi, dia tetap sabar dan tidak pula menjadi masalah. Itulah dia golongan orang yang soleh.

4. Isteri Fasik
Isteri yang selalu sahaja meminta-minta bukan sahaja yang perlu, yang tidak perlu pun dia suka meminta-minta juga. Kalau diberi pun tidak pernah puas-puas, tidak pernah rasa cukup, sudah mewah pun tidak rasa cukup. Kalau tidak diberi menjadi masalah, dia merungut-rungut, marah-marah, sakit hati, merajuk hingga menjadi masalah dalam rumah tangga. Inilah dia golongan yang fasik. Isteri ini selalu sahaja derhaka dengan suami, apatah lagi dengan Tuhan.

Semoga Allah menyatukan hati-hati kita, menjadikan kita saling mencintai karena Dia; sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi Rasululllah saw bersabda:

"Di sekitar Arsy ada menara-menara dari cahaya. Di dalamnya ada orang-orang yang pakaiannya dari cahaya dan wajah-wajah mereka bercahaya. Mereka bukan para nabi atau syuhada'. Para nabi dan syuhada' iri kepada mereka. Ketika ditanya para shahabat, Rasulullah menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, saling bersahabat kerana Allah dan saling kunjung mengunjungi kerana Allah..

Wednesday, September 7, 2011

OBJEKTIF SYAITAN

objektif utama syaitan ke atas manusia, iaitu:
  1. Menyesatkan manusia.
  2. Mengkafirkan manusia.
  3. Memusyrikkan manusia.
  4. Menjadikan manusia penghuni neraka.
Untuk mencapai objektif ini, syaitan memiliki pelbagai ciri dan kemampuan sebagaimana yang telah kita pelajari dalam Bab Ketiga. Dalam bab ini pula kita akan mempelajari bagaimana syaitan menggunakan ciri-ciri dan kemampuan tersebut ke atas umat Islam untuk mencapai objektifnya.
 
Terdapat dua kaedah yang digunakan oleh syaitan untuk mencapai salah satu atau lebih dari empat objektifnya, iaitu:
 
 

Monday, August 22, 2011

PUASA UMAT TERDAHULU




Sejarah Puasa Umat-Umat terdahulu
Puasa adalah salah satu dari tiga ibadah yang sama tuanya dengan umur manusia di muka bumi ini. Dua ibadah lainya adalah shalat, seperti disebutkan dalam surat al-Mudatstsir [74]: 40-43, dan Qurban seperrti disebutlan dalam surat al-Ma’idah [5]: 27. Sementara ibadah puasa terdapat dalam surat al-Baqarah; 184
…كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya: “…Sebagaimana telah diwajibkan juga kepada orang-orang yang sebelum kamu mudah-mudahan kamu bertaqwa”.
Dalam sebuah sumber disebutkan bahwa nabi Adam as. sesampainya di bumi setelah diturunkan dari sorga akibat dosa dan kesalahan yang dilakukan, dia bertaubat kepada Allah swt dan berpuasa selama tiga hari setiap bulan. Itulah yang kemudian dikenal dengan puasa hari putih yang juga sunah untuk dikerjakan pada setiap tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulan.
Nabi Daud as juga melaksanakan puasa, bahkan dalam waktu yang cukup lama yaitu setengah tahun, di mana nabi Daud berpuasa satu hari dan berbuka satu hari begitulah selama satu tahun. Al-Qurthubi, dalam kitab al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, menyebutkan bahwa Allah telah mewajibkan, puasa kepada Yahudi selama 40 hari, kemudian umat nabi Isa selama 50 hari. Tetapi kemudian mereka merubah waktunya sesuai keinginan mereka. Jika bertepatan dengan musim panas mereka menundanya hingga datang musim bunga. Hal itu mereka lakukan demi mencari kemudahan dalam beribadah. Itulah yang disebut nasi’ seperti disebutkan dalam surat at taubah: 37
إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ يُضَلُّ بِهِ الَّذِينَ كَفَرُوا يُحِلُّونَهُ عَامًا وَيُحَرِّمُونَهُ عَامًا لِيُوَاطِئُوا عِدَّةَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فَيُحِلُّوا مَا حَرَّمَ اللَّهُ…
Artinya: “Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran, disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mensesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah…”
Hal itu menggambarkan betapa umat Yahudi selalu menghindarkan diri untuk melaksanakan ibadah dengan sempurna sesuai aturan Tuhan. mereka menginginkan puasa dilaksanakan selalu pada musim dingin atau musim bunga yang siangnya lebih pendek dari malam, berbeda dengan puasa pada musim panas, disamping suhu yang panas siang juga lebih panjang dari malam hari. Sehingga, puasa akan terasa sangat sulit dan melelahkan.
Namun, begitulah hikmahnya Allah memerintahkan puasa berdasarakan perjalan bulan bukan matahari agar puasa dirasakan pada semua musim dan semua kondisi. Sebab, jika puasa berdasarkan perjalan matahari, maka ibadah puasa akan selau berada dalam satu keadaan. Jika tahun ini puasa di mulai pada musim panas, maka selamanya puasa akan berada pada musim panas. Berbeda dengan perjalanan bulan yang selalu berubah, di mana jika tahun ini puasa dilaksanakan pada musim panas, maka tahun depan atau beberapa tahun kemudian puasa akan dilaksanakan pada musim dingin atau semi dan seterusnya. Begitulah yang disebutkan Allah swt, dalam surat al-Baqarah: 186
فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
Artinya: …Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu,…
Dalam sebuah riwayat juga ditemukan bahwa umat Yahudi berpuasa pada setiap tanggal 10 Muharram, sebagai syukur atas keselamatan Musa dari kejaran Fir’aun. Maka Nabi SAW juga memerintahkan umatnya untuk berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram yang dikenal dengan puasa hari Asyura.
Umat Yahudi juga diperintahkan berpuasa 1 hari pada hari ke 10 bulan ke 7 dalam hitungan bulan mereka selama sehari semalam. Sementara masyarakat Mesir kuno, Yunani, Hindu, Budha, juga melaksanakan puasa berdasarkan perintah tokoh agama mereka. Umat Nashrani juga berpuasa dalam hal-hal tertentu, seperti puasa daging, susu, telur, ikan, bahkan berbicara. Seperti yang pernah dilakukan Maryam ibu Nabi Isa sebagaimana dalam surat Maryam [19]: 26
إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا
Artinya: “…Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini".
Mengetahui sejarah puasa umat terdahulu penting untuk diketahui agar kita jangan mencontoh puasa umat lalu, seperti umat Yahudi yang memilih waktu puasa seenaknya bukan menurut aturan Allah. sebab, ibadah yang lakukan dengan “kelicikan” kerugiannya akan diderita oleh manusia itu sendiri. Kita juga harus menyadari bahwa puasa adalah ibadah yang pelaksanaannya menuntut keimanan dan kesadaran. Ibadah puasa adalah untuk manusia itu sendiri. Bukankah Allah menegaskan bahwa tujuan puasa adalah untuk perubahan ke arah yang lebih baik. Puasa akan menjadikan manusia berubah dari tingkat mukmin menjadi muttaqin.
Untuk bisa berubah ke arah dan bentuk yang lebih baik, bukan hanya manusia yang berpuasa, akan tetapi sebagian binatangpun ketika bermetamorfosa (merobah wujud) juga berpuasa, seperti halnya kupu-kupu yang berubah dari ulat yang bentuk dan rupanya jelek dan berjalan melata, menjadi seekor kupu-kupu yang bersayap dan berawarn indah serta bisa terbang karena berpuasa.



Sunday, August 21, 2011

KELEBIHAN MALAM LAILATUQADAR



“Carilah dengan segala upayamu malam Lailatul – Qadar pada malam-malam yang ganjil daripada 10 akhir dalam Ramadan”-Hadis riwayat Iman Bukhari r.a.Mengapa kita harus mencari Lailatul-Qadar? Jawapnya ialah kerana malam itu satu-satunya malam yang penuh keberkatan dan amal ibadat ketika itu mempunyai nilai pahala yang lebih baik daripada 1000 bulan ( Kira-kira 83 tahun 3 bulan )..
Pada malam tersebut dengan izin Allah, para malaikat dan Jibril dari Sidratul Muntaha akan turun kebumi untuk bertemu dengan orang yang beriktikaf, bersembahyang, bertasbih, bertahmid dan bertakbir memohan kebaikan daripada Allah Taala. Para malaikat akan mengaminkan doa mereka itu. Merupakan detik-detik keemasan yang menjanjikan sinar kegemilangan individu muslim untuk merebut syurga Allah dalam kehidupan kekal abadi iaitu di akhirat.
Sianaran matahari esoknya tunduk akur menahan sinaran cahaya malaikat yang sedang bergegas menuju kelangit setelah berhimpun dipelosok bumi pada malam Lailatul-Qadar.
“Pada malam itu, turun para malaikat dan Jibril dengan izin Tuhan mereka, kerana membawa segala perkara (yang ditakdirkan berlakunya pada tahun berikutnya)’-(Surah al-Qadar).Malam itu penuh dengan kesejahteraan hingga terbit fajar (Surah al-Qadar). Dalam hubungan ini Rasaulullah s.a.w bersabda : “Pada tiap- tiap malam Lailatul-Qadar itu, Allah menurunkan rahmat yang meliputi sekelian mukmin di atas muka bumi ini dari timur ke barat. Selebihnya diperintahkan Allah kepada Jibril agar diberikan kepada bayi yang lahir pada malam itu samada oleh ibu yang Islam atau Kafir”. ( Kitab Durrah al – Nasihin ).
Kebanyakkan ulama berpendapat, Lailatul-Qadar ialah malam mula diturunkan al- Quran, iaitu pada 17 Ramadan tahun ke 40 setelah Nabi Muhammad dilahirkan. Rasulullah bersabda : “Lailatul Qadar dikurniakan ke atas umatku dan tidak kepada umat lain”- Hadis riwayat Anas r.a.Rasulullah pernah memikirkan mengenai umur umatnya yang pendek berbanding umat nabi-nabi yang lain (Sekitar 60-70 tahun jarang yang lebih daripada itu). Dengan rahmat Allah dikurniakanNya malam Lailatul-Qadar yang penuh keberkatan itu terlebih baik daripada 1000 bulan.
Hadis lain menyatakan suatu ketika Rasulullah menceritakan dari Jibril kepada para sahabat mengenai seorang yang sangat soleh menghabiskan masa berjihad selama hampir 1000 bulan iaitu pemuda bani Israel bernama Syarm’un al-Ghazi. Hanya bersenjatakan kulit unta Syarm’un dengan mudah menewaskan musuh. Bila haus ketika berjuang Allah terbitkan air yang segar di celah-celah giginya dan ketika lapar Allah tumbuhkan tumbuhan sekelilingnya.
Puak kafir sangat memusuhinya dan akhirnya memperalatkan isterinya dengan tawaran rasuah yang tinggi. Ketika Syarm’un sedang tidur, isterinya mengikat dengan seutas rantai besi namun sebanyak dua kali gagal. Pahlawan Islam ini mempunyai kekuatan luarbiasa hingga dapat memutuskan rantai tersebut dengan mudah malah cubaan ketiga juga gagal.
Akhirnya Syarm’un dedahkan rahsia kekuatannya kepada isterinya yang disangka tiada apa-apa. “Tiada sesiapa dapat memudaratkan diriku kecuali dengan izin Allah dan tiada siapa dapat mengalahkan aku kecuali dengan sehelai rambutku!” Dedahan ini memerangkap dirinya. Beliau tidak dapat melepaskan diri apabila diikat dengan sehelai rambutnya. Kesempatan ini diambil oleh musuhnya menyeksanya sebelum dibunuh. Pelbagai seksaan dilakukan pada pemuda ini, matanya dikorek, telinganya dipotong dan tubuhnya diikat pada sebatang tiang rumah ditikam-tikam dengan senjata tajam.
Allah mengilhamkan Syarm’un supaya memohon perlindungan dariNya. Lalu pemuda itu memohon agar dapat menggoyangkan tiang supaya dapat merobohkan rumah dan menimpa musuh yang hendak membunuhnya. Doa Syarm’un dimakbulkan apabila dia dapat kekuatan yang luar biasa hingga dapat menggoyangkan tiang yang teguh itu dan membunuh musuh-musuhnya termasuk isterinya ditimpa runtuhan.
Dengan kuasa Allah s.w.t. tubuh Syarm’un yang cedera juga turut pulih serta merta. Syarm’um kemudiannya berpuasa selama hampir 1,000 bulan lagi bagi membalas pertolongan Allah yang menyelamatkan nyawanya. Perjuangan Syarm’un dan kekuatan imannya sungguh luar biasa begitu mengharukan Rasulullah dan para sahabat berdukacita kerana tidak dapat mencapai ganjaran seperti itu. Mereka bertanya akan ganjaran yang diberikan Allah kepada pemuda itu. Baginda menjawab tidak tahu, lalu Allah menurunkan Surah al-Qadar. Anugerah malam Lailatul-Qadar dengan menghidupkan malamnya mempunyai ganjaran melebihi 1,000 bulan, tidak perlu melakukan jihad sehebat Syarm’un.
Membaca satu ayat al-Quran pada malam Lailatul-Qadar lebih disukai oleh Allah berbanding membaca seluruh al-Quran hingga khatam pada malam-malam lain. Perbualan nabi Musa a.s yang terkenal suka berdialog dengan Allah.
· Nabi Musa a.s: “Ya Allah aku ingin mendekatiMu?”
· Allah: “Apabila engkau menghidupkan malam Lailatul-Qadar!”
· Nabi Musa a.s: “Ya Allah aku ingin RahmatMu?”
· Allah: “Rahmat dan belas ikhsanKu kepada mereka yang menghidupkan malam Lailatul-Qadar!”
· Nabi Musa a.s: “Ya Allah aku ingin melintasi Titian Siratul Mustaqim selaju kilat”
· Allah: “Hanya jika engkau menghidupkan malam Lailatul-Qadar“
· Nabi Musa a.s: “Ya Allah aku ingin duduk dibawah pohon syurgaMu dan menikmati buah-buahannya?”
· Allah: “Dirikanlah ibadat pada malam Lailatul-Qadar!”
· Nabi Musa a.s: “Ya Allah aku ingin selamat daripada api neraka?”
· Allah: “Wahai Musa, carilah keberkatan pada malam Lailatul-Qadar!”
Setiap malaikat mendoakan umat yang bermunajat, itulah kelebihan umat Muhammmad antaranya diampunkan dosa-dosanya pada malam Lailatul-Qadar belum pernah terjadi kepada umat lain sebelum ini. Disamping doa dan harapan kita umat Islam untuk mendapat kesejahteraan hidup, rezki yang berkat, ilmu yang bernafaat, kesihatan yang baik dan sebagainya tiada hijab untuk Allah menrima dan memakbulkannya. Melainkan empat orang yang tiada diampunkan dosanya iaitu:-
1. Orang yang kekal minum arak.
2. Orang yang derhaka kepada ibubapanya.
3. Orang yang memutuskan silaturahim.
4. Orang yang tidak bercakap dengan saudaranya lebih 3 hari.
Lailatul-Qadar membawa makna Malam Kemuliaan dan Kebesaran iaitu malam terkumpulnya keseluruhan al-Quran di Lauhul-Mahfuz sebelum diturunkan secara berperingkat-peringkat selama 23 tahun. Surah Ad-Dhukaan ayat kedua juga di sebut mengenai kemuliaan al-Quran yang diturunkan pada malam Lailatul-Qadar:
“Demi al-Quran! Kitab yang menerangkan kebenaran. Sesungguh Kami telah menurunkan al-Quran itu pada malam yang berkat…(Kami menurunkan al-Quran pada malam berkat itu dijelaskan malaikat tiap-tiap perkara yang mengandungi hikmat serta tetap berlaku),-tidak bertukar atau berubah.
Satu lagi hadis menceritakan mengenai beberapa orang bani Israel menghabiskan masanya lebih 80 tahun menyembah Allah s. w. t. Mereka ialah Nabi Ayub, Nabi Zakaria dan Nabi Yusya. Mendengar itu sahabat Rasulullah s.a w. takjub dan bertanya bagaimana cara untuk menyaingi mereka itu, lalu Rasulullah bacakan Surah al-Qadar.
Ibnu Hazam berpendapat:-
· Jika bulan Ramadan 29 hari – maka 10 hari terakhir bermula malam ke 20, maka Lailatul-Qadar jatuh pada malam yang genap.
· Jika Ramadan genap 30 hari – maka 10 hari terakhir bermula malam ke 21, maka Lailatul-Qadar jatuh pada malam yang ganjil.
Lailatul-Qadar adalah kurniaan Allah s.w.t kepada umat Muhammad s.a.w. yang tidak ternilai fadhilatnya. Ini ada kaitan dengan umur manusia di zaman akhir ini (Umat Muhammad).
Jibril a.s. berkata kepada Rasulullah s.a.w.” Ya Muhammad, tahukah engkau kenapa singkat umur umatmu?”Tanpa menunggu jawapan, Jibril a.s sendiri menjawab pertanyaan itu ” Sebabnya supaya mereka tidak berpanjangan melakukan maksiat ….”. Lailatul-Qadar hanya satu malam sahaja dalam malam bulan Ramadhan.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...